Laporan Praktikum Argentometri

Laporan Praktikum Argentometri

1. tujuan praktikum

Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah menentukan kadar CaCl2 dalam analisa argentometri menggunakan metode Mohr.

2. tinjauan pustaka

Argentometri adalah penetapan kadar suatu zat dalam larutan berdasarkan pengendapan dengan memakai larutan AgNO3 sebagai standard. Pada reaksi argentometri terbentuk endapan AgCl (perak klorida). Endapan adalah padatan yang tidak larut dan terpisah dari larutan. Analisa argentometri ini biasanya digunakan untuk penentuan kadar senyawa yang mengandung unsur halogen (SPU golongan VII A, yaitu Cl, Br, I) karena reaksi antara ion Ag+ dan ion dari senyawa tersebut dapat menghasilkan suatu endapan. Satu grek dalam metode ini adalah kemampuan suatu zat untuk mengikat atau melepas 1 ion perak (Ag+) (Ershanggono, 1996). Dalam argentometri, yang dimaksud dengan larutan normal adalah larutan yang ekivalen dengan 1 mol ion Ag+ tiap 1 mol AgNO3 (Day & Underwood, 1992).

Argentometri merupakan bagian dari prepitimetri, yakni titrasi-titrasi yang menyangkut penggunaan larutan AgNO3 yang dapat menimbulkan endapan. Respitimetri merupakan suatu cara titrasi di mana terjadi pengendapan (Harjadi, 1986), dengan reaksi sebagai berikut:
AgNO3 + CaCl2 → AgCl(s) + Ca(NO3)2 (Chang, 1991)

Endapan terbentuk karena beberapa faktor. Antara lain adalah kelarutan dari hasil reaksi yang kecil, adanya efek ion senama, dan larutan sudah melewati titik jenuhnya saat pencampuran (Khopkar, 2002).

Pada argentometri terdapat tiga metode yang dapat digunakan, antara lain metode Mohr, metode Volhard, dan metode Fajans. Metode Mohr adalah salah satu cara dalam argentometri yang merupakan metode paling baik untuk menentukan kadar klorida dari suatu larutan. Indikator yang digunakan adalah K2CrO4, dan titran yang digunakan AgNO3. Indikator menunjukan tercapainya titik akhir titrasi, dengan perubahan warna larutan yang telah dicampur dengan indikator K2CrO4 terbentuk endapan yang berwarna merah-bata (Fritz, 1979).

Endapan merah bata terbentuk karena mula – mula AgCl akan mengendap lebih dahulu, hingga semua ion Cl- dari CaCl2 habis bereaksi dengan ion Ag+ dari AgNO3. Kemudian terjadi reaksi antara larutan K2CrO4 dengan AgNO3 membentuk endapan merah bata yang berasal dari Ag2CrO4 (Fritz, 1979), berikut adalah reaksinya:
NaCl + AgNO3  AgCl(s) (putih) + NaNO3
K2CrO4 ( indikator ) + AgNO3  Ag2CrO4(s) (merah) + KNO3

Dalam metode Volhard, menggunakan indikator Fe3+ dan NH4SCN atau KSCN sebagai larutan standar. Cara Volhard ini biasanya dipakai untuk menentukan kadar garam perak melalui titrasi langsung. Kadar garam klorida, garam bromida, dan garam iodida dengan titrasi kembali setelah ditambah larutan AgNO3 berlebih. Dalam titrasi cara ini, pH harus dalam keadaan rendah agar ion Fe+3 tidak mengalami hidrolisis. Dalam metode Volhard akan terbentuk endapan putih AgSCN yang dihasilkan dari reaksi antaraion perak dan ion sianida. Titik akhir titrasi akan tercapai, jika warna larutan berubah menjadi merah darah yang ditimbulkan karena adanya endapan Fe(SCN)3 (Ersanghono, 1996).

Pada metode Fajans, indikator yang digunakan adalah indikator adsorpsi menurut anion yang diendapkan oleh Ag+, dan menggunakan AgNO3 sebagai titran, pH waktu reaksi tergantung dari macam anion yang diendapkan oleh Ag+, seperti fluoroscein, dikloro fluoroscein, atau eosin. Indikator adsorpsi adalah zat yang dapat diserap pada permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Indikator adsorpsi merupakan asam lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Kelemahan dalam penggunaan indikator adsorpsi adalah terlalu peka terhadap cahaya, sehingga dapat membuat endapan perak terurai. Penerapannya juga agak terbatas, karena memerlukan endapan koloid yang harus terbentuk dengan cepat (Petrucci & Wismer, 1987). Laporan Praktikum Argentometri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Laporan Praktikum

Laporan Praktikum Analisis Vegetasi

Laporan Praktikum Analisis Kualitatif Kation